Schooling, Home Schooling dan Unschooling
Oleh : Sigit Nur Setiyawan
Salah satu tugas sebagai orang tua adalah mendidik anak anaknya. Mendidik dengan pemahaman keagamaan dan ilmu live skill untuk menunjang kehidupan dia nantinya. Selain itu tugas orang tua yang tak kalah penting adalah menyiapkan buah hatinya untuk mandiri. Siap menghadapi dunia ketika orang tuanya sudah tiada atau pergi untuk sementara.
Ketika berbicara masalah pendidikan maka yang terbesit dalam kepala kita pasti kata Sekolah. Karena Sekolah memang sangat melekat dengan frase kata Pendidikan. Walaupun begitu, tidak semua pendidikan didapatkan dari Sekolah. Justru pendidikan awal dan utama harus didapatkan oleh anak di dalam rumahnya. Disanalah peran dan fungsi Ibu sebagai Ummun warobatun bait sangat ditekankan.
Setiap orang tua memiliki misi dan visi terhadap pendidikan anak. Namun perlu disadari bahwa setiap anak memiliki impian yang disebut dengan cita cita. Terkadang antara visi dan misi orang tua berjalan beriringan namun tak jarang pula harus perlu dikompromikan antar anak dan orang tua.
Maka sangat wajar berbagai pilihan sekolah mulai menjamur seiring pemahaman manusia akan pentingnya pendidikan yang berkarakter. Muncul SDIT, SMPIT, SMAIT, sekolah Alam, Home schooling dan lain sebagainya. Mereka muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam.
Disinilah orang tua harus bijaksana memilih sekolah agar tidak mengubur impian anak. Memahami road map pendidikan menggapai cita cita sangatlah perlu. Sebagai contoh begini.
Ada anak yang memiliki cita cita menjadi dokter. Maka tugas orang tua adalah membantu mewujudkan impian anak dengan menjaga road map pendidikan sesuai dengan yang seharusnya diterima. Selain itu tugasnya yang lain adalah mengisi dengan nilai nilai ketundukan seorang ibadurrahman.
Maka dalam kasus diatas orang tua harus menjaga agar anak tadi bisa sekolah sesuai road map. SD habis itu SMP habis itu SMA. Di SMA dia mengambil jurusan IPA habis itu kuliah di kedokteran. Apakah menudian homeschooling atau schooling itu pilihan bijak orang tua. Mana yang lebih efektif untuk mewujudkan cita cita.
Dalam kasus lain. Ada anak yang punya cita cita sebagai pengusaha, bisa jadi sekolah tinggi itu justru menghabiskan umur dia. Karena untuk menjadi pengusaha yang dibutuhkan bukan ilmu teori tetapi ilmu pendampingan bisnis yang sering disebut dengan coaching bisnis. Pendampingan dari tahap awal sampai sukses. Maka pilihan unscholing bisa jadi pilihan yang rasional.
Dalam kasus lain. Ada anak ingin menjadi ahli fiqh. Maka orang tua harus bijak. Apakah mau menempuh pendidikan formal dengan schooling atau non formal dengan pesantren, kemudian lanjut ke Cairo. Hasil keputusannya tentu harus didiskusikan antara anak yang punya impian dengan orang tua sebagai penanggung jawab akan keberlangsungan pendidikan. Kalau sudah ada kesepakatan tinggal dijalani dengan penuh keistiqomahan.
Jangan pernah melakukan “judge”. Jangan paksakan anak orang lain yang punya cita cita lain harus mengikuti jalan berfikir kita, road map pendidikan anak anak kita atau bahkan sekolah anak anak kita. Ingat setiap anak punya impiannya masing masing. Impian anak kita berbeda dengan anak orang lain. Kalaupun toh sama road map pendidikan yang disepakati juga bisa jadi berbeda.
So, mau pilih mana? Schooling, Homeschooling atau bahkan Unschooling terprogram? Ya tanyakanlah pada diri sendiri, tanyakan kepada anak anak kita yang punya impian dan cita cita, dan siapkan road map pendidikan berkarakter untuk meraih cita citanya. Itulah tugas kita, tugas sebagai orang tua.
